4 Pesona Kampung Praiyawang di Sumba Timur

Kampung Praiyawang sudah cukup dikenal wisatawan yang mengunjugi Sumba. Kampung adat ini dikenal dengan adat istiadatnya yang masih terjaga, arsitektur rumah tradisional yang menarik, serta bangunan kuburan megalitik yang sarat makna. Selain itu, wisatawan juga bisa melihat beragam benda peninggalan nenek moyang seperti gong, tambur dan pakaian adat yang telah berumur ratusan tahun namun masih terawat dengan baik.

Beragam aktivitas yang bisa dilakukan wisatawan di kampung ini diantaranya adalah mempelajari kebudayaan Sumba Timur, berfoto, menikmati tari tarian tradisional dan melihat secara langsung proses pembuatan tenun Sumba. Tak heran jika kampung ini sering disebut sebagai representatif peradaban Sumba dari masa silam.

Baca juga: Kampung Praiyawang di Sumba Timur

1. Rumah Adat di Kampung Praiwayang

Bangunan Megalitik di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / Yenni Natalia Jahja

Bangunan Megalitik di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / Yenni Natalia Jahja

Rumah adat Sumba di kampung ini memiliki ciri-ciri khas atap yang tinggi lancip, serta terdapat kepala dan tanduk kerbau di bawah pintu. Rumah terbagi menjadi 3 bagian, yaitu bagian bawah, tengah dan atas. Pembagian ini melambangkan tiga alam yang dipercayai masyarakat setempat, yaknik alam bawah atau tempat arwah, alam tengah atau tempat manusia, dan alam atas atau tempat para dewa.

Terdapat delapan rumah induk yang mengelilingi kampung adat. Delapan rumah induk itu melambangkan delapan keturunan dari bangsawan dalam Kampung Adat Praiyawang, berikut dengan fungsinya masing-masing.

Rumah Adat di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / Lupita kemala Dewi

Rumah Adat di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / Lupita kemala Dewi

Rumah adat di Kampung Praiyawang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Misalnya Rumah Besar atau Rumah Adat Harapuna atau Uma Bokul, yang dijadikan tempat penyimpan mayat atau ritual khusus seperti saat kematian para raja. Ada pula rumah adat Uma Ndewa digunakan khusus untuk ritual adat cukuran bagi anak raja yang baru lahir. Sementara itu, rumah adat  Uma Kopi digunakan sebagai rumah tempat minum kopi.

Untuk menjaga tradisinya tetap terjaga, Kampung Praiyawang memiliki peraturan yang unik. Yaitu anak tertua di dalam keluarga harus berdiam di kampung untuk menjaga peninggalan keluarganya. Oleh sebab itu, anak yang bisa pindah atau keluar dari kampung adalah anak kedua, ketiga, seterusnya.

2. Peninggalan Bangunan Megalitik

Ukiran kuburan megalitik di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / rendy radjah

Ukiran kuburan megalitik di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / rendy radjah

Di tengah perkampungan Kampung Praiyawang, pengunjung bisa mendapati bangunan batu besar yang membentuk area pemakaman. Umumnya kuburan tua ini dikhususkan untuk para raja pada zaman dahulu. Kuburan-kuburan batu yang besar ini memiliki berat sekitar satu hingga lima ton.

Bangunan batu ini memiliki ukiran yang sangat menarik, beberapa diantaranya memiliki ukiran hewan. Ukiran ini menggambarkan perilaku atau pekerjaan orang yang dimakamkan semasa hidup.

Keberadaan bangunan megalitik ini tak bisa dilepaskan dari kepercayaan Marapu yang masih dianut masyarakat setempat. Kepercayaan ini memberikan peghormatan pada arwah nenek moyang, dan mempercayai bahwa batu besar memiliki kekuatan yang sakral.

3. Mempelajari Tenun Tradisional Khas Sumba

Seorang ibu menenun di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / Elsa Aji

Seorang ibu menenun di Kampung Praiwayang. Foto: Google Maps / Elsa Aji

Di sini pengunjung bisa mendapati kain tenun yang dipajang dan siap jual. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat wanita Kampung Praiyawang yang sedang menenun. Kain tenun ini nantinya digunakan sebagai pakaian adat, pakaian sehari-hari serta kain untuk mebungkus orang mati. Kain tenun Sumba biasanya didominasi warna biru merah dan biru nila.

Pewarnaan yang digunakan dalam pembuatan kain tenun Sumba masih banyak menggunakan bahan-bahan alami. Proses pembuatannya sendiri bisa memakan waktu hingga beberapa bulan.

4. Menyaksikan Tari Tradisional

Tarian Kabokang khas Sumba Timur. Foto: instagram/spasiethniccraft

Tarian Kabokang khas Sumba Timur. Foto: instagram/spasiethniccraft

Jika beruntung, wisatawan bisa menyaksikan Tarian Kabokang saat mengunjungi Kampung Praiyawang. Tarian ini biasanya dipentaskan dalam acara penting. Pada zaman dahulu, tarian ini merupakan sarana untuk mengingatkan raja untuk selalu bersikap jujur dan adil. Tarian ini juga dipentaskan untuk menyambut kelahiran bayi atau upacara persiapan untuk berperang. Dalam pementasannya, penari akan menggunakan kain Hinggi Kombu yang merupakan selembar penutup badan dan selendang syal.

Lokasi Kampung Praiwayang

Kampung Praiwayang di Sumba Timur. Foto: Google Maps / Westi Kurnia

Kampung Praiwayang di Sumba Timur. Foto: Google Maps / Westi Kurnia

Kampung Praiyawang berada di Desa Rindi (atau disebut juga Desa Rende), Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. Dar Kota Kupang, wisatawan bisa mengambil penerbangan ke Bandara Umbu Mehang Kunda di Kota Waingapu.

Kemudian wisatawan bisa menyewa motor atau mobil dari Kota Waingapu menuju ke Kampung Praiyawang. Jarak yang ditempuh sekitar 69 km dari Kota Waingapu, dengan durasi tempuh sekitar satu jam. Jalanan menuju ke Praiyawang terbilang cukup bagus, karena sepanjang jalan aspal masih sangat mulus.

Baca juga: Kampung Adat Pau Umabara di Sumba Timur

You may also like...

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x