4 Pesona Kampung Pau Umabara di Sumba Timur

Kampung Pau Umabara – Menjelajahi tanah Sumba memang tidak ada habisnya. Mulai dari wisata alam, sampai wisata budaya, semuanya tersedia.

Jika kamu ingin menjelajahi salah satu kebudayaan Sumba yang masih lestari hingga saat ini, Kampung Pau Umabara bisa jadi salah satu pilihan terbaik.

Kampung Pau Umabara atau Kampung Umabara atau Kampung Adat Pau, merupakan salah satu destinasi wisata unggulan di Nusa Tenggara Timur.

Kampung Pau Umabara tepatnya berada di pinggiran Sungai Melolo, Desa Watu Hadang, Kecamatan Umalulu, Kabupaten Sumba Timur. Jarak tempuhnya sekitar 66 km dari Kota Waingapu.

Warga kampung Pau Umabara menjajakan kain Tenun Pahikung. Foto: instagram/lennyagustin18

Warga kampung Pau Umabara menjajakan kain Tenun Pahikung. Foto: instagram/lennyagustin18

Sepasang pohon beringin di gerbang pintu masuk akan menyambut kehadiran para pengunjung. Menjelajah lebih jauh, kita akan mendapati tatanan desa yang masih sangat tradisional.

Jangan lewatkan untuk melihat bangunan khas zaman megalitik, mampir ke rumah tradisional Sumba dan melihat proses pembuatan kain tenun.

Kebudayaan Megalitikum di Kampung Pau Umabara

Bangunan megalitik di Kampung Pau Umabara. Foto: Google Maps / Sugih SM

Bangunan megalitik di Kampung Pau Umabara. Foto: Google Maps / Sugih SM

Jika mengunjungi Kampung Pau Umabara, kita akan mendapati bangunan-bangunan batu yang masih berdiri kokoh. Peninggalan era prasejarah Sumba ini memang masih terjaga dengan baik, karena peran serta warga setempat yang masih melestarikan kebudayaan megalitikum.

Hal ini juga tak terlepas dari kepercayaan yang masih dianut warga setempat. Sebagian warga di kampung ini masih memeluk kepercayaan Marapu.

Kepercayaan ini memberikan peghormatan pada arwah nenek moyang, dan mempercayai bahwa batu besar memiliki kekuatan yang sakral.

Baca juga: Kampung Adat Bodo Ede di Sumba Barat

Perkampung Adat Pau Umabara

Rumah tradisional di Kampung Pau Umabara Sumba. Foto: instagram/sumbamemories

Rumah tradisional di Kampung Pau Umabara Sumba. Foto: instagram/sumbamemories

Perkampungan Umabara dibangun di sekitar Sungai Melolo. Lokasi ini konon dimaksudkan untuk mengatasi kesulitan air. Di sini pengunjung akan mendapati perkampungan dengan tatanan khas kearifan lokal.

Ada kebun warga di pinggiran sungai, serta kuburan di pinggiran kampung. Rumah-rumah di sini didirikan saling berhadapan, dengan lapangan di bagian tengah yang disebut dengan talora.

Selain itu, penduduk setempat juga mendirikan Uma Lai Kapangu sebagai bentuk penghormatan akan arwah leluhur. Istilah uma sendiri berarti rumah.

Rumah adat ini dipercaya sebagai tempat tinggal leluhur marga Watu Pelitu. Di sini kita akan mendapati seperangkat gong yang bernama kapangu serta meriam di luar rumah.

Rumah adat ini diyakini begitu sakral, sehingga tidak boleh ditempati oleh manusia. Rumah ini juga hanya boleh diterangi oleh lampu minyak kelapa.

Sejarah Upacara Yila Watu

Ukiran batu di Kampung Pau Umabara. Foto: instagram/totoprass

Ukiran batu di Kampung Pau Umabara. Foto: instagram/totoprass

Kampung Pau Umabara masih memiliki tradisi megalitik yang masih terjaga hingga saat ini. Salah satunya adalah cerita mengenai upacara Yila Watu atau tarik batu.

Upacara Yila Watu merupakan upacara yang dilakukan saat penguburan tetua adat setempat. Upacara ini terakhir dilakukan pada tahun 1983.

Rangkaian upacara berlangsung selama 55 hari, sedangkan persiapan batu kuburnya sendiri memakan waktu 22 hari.

Dalam upacara ini, ratusan orang terlibat untuk menarik batu seberat tujuh ton. Batu ini ditarik dalam jarak tempuh sekitar tiga kilometer.

Kampung Adat Pau Umabara, Punya Tenun Pahikung

Tenun Pahikung khas Sumba. Foto: instagram/lennyagustin18

Tenun Pahikung khas Sumba. Foto: instagram/lennyagustin18

Kampung Pau Umabara juga dikenal akan hasil tenun ikatnya. Kain di sini disebut dengan tenun pahikung. Pahikung sendiri merupakan teknik menenun ikat yang dikombinasikan dengan teknik songket, di mana ada motif benang timbul di dalamnya.

Bahan alami masih banyak digunakan di pembuatan kain tenun Sumba Timur. Diantaranya adalah akar mengkudu untuk warna merah dan kyu kuning untuk warna kuning. Proses pembuatannya bisa memakan waktu 2-3 minggu.

Kain tenun pahikung dikenal sebagai salah satu kain tenun terbaik di Sumba. Oleh karena itu, jangan lupa untuk membeli hasil tenun dari kampung ini sebagai oleh-oleh.

Baca juga : Kain Tenun Khas Sumba Barat

Fasilitas di Kampung Pau Umabara

Untuk saat ini, fasilitas wisata di Kampung Pau Umabara masih cukup terbatas. Tidak ada tempat penginapan khusus di kampung ini, sehingga biasanya wisatawan menginap di Kota Waingapu.

Untuk bisa mencapai kampung ini, pengunjung bisa menaiki bus kecil dengan waktu tempuh sekitar 2-3 jam dari Kota Waingapu. Untuk tempat makan, pengunjung bisa menemukan beberapa tempat makan sederhana dalam jarak 5 kilometer di luar obyek wisata.

You may also like...

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x