Pemakaman Adat Sumba

Kematian selalu menjadi momentum yang sakral bagi semua kebudayaan di dunia, termasuk di Indonesia. Tidak berbeda dengan kelahiran, kematian juga dirayakan dengan ritual besar meskipun penuh duka cita. Ritual ini bermaksud untuk mengantarkan dan menghormati yang telah tiada kepada kehidupan abadi.

Indonesia yang terdiri ratusan suku bangsa mempunyai tradisi yang berbeda-beda dan unik dalam merayakan kematian. Tradisi-tradisi unik ini merupakan sebuah tradisi sakral yang sudah berjalan ratusan tahun dan tetap lestari serta dipegang teguh oleh masyarakat.  Tradisi merayakan kematian sebagai ritual yang sakral antara lain: ngaben di Bali, rambu solo di Toraja, tiwa suku Dayak Kalimantan, dan upacara pemakaman Merapu Sumba

Masyarakat Sumba menganut ajaran Merapu percaya bahwa hidup ini fana atau sementara. Setelah kematian, mereka akan hidup abadi di dunia roh, di prai marapu, surga abadi leluhur marapu. Oleh karena itu, untuk mencapai kesempurnaan jiwa yang meninggal, masyarakat Sumba akan melakukan tradisi pemakaman adat Sumba yang rumit dan panjang.

Pesta Adat

Sumber: maxfmwaingapu,com

Kematian merupakan peristiwa duka. Prosesi pemakaman diliputi suasana berkabung. Namun di  Sumba, dimana kematian melibatkan hampir semua lapisan masyarakat, peristiwa berkabung ini menjadi mirip pesta adat. Selama jasat yang meninggal disemayamkan di rumah duka.

Berbondong-bondong masnyarakat datang untuk menyatakan duka cita. Ada tangisan, ada doa, juga ada tawa. Sepanjang siang dan malam, musik tradisional seperti gong, tambur, bedug, serta tarian dikumandangkan. Keluarga yang berduka menyambut pelayat dengan sirih-pinang, teh, kopi, dan makan dengan daging babi.

Tabuh Gong

Para pelayat yang datang ke rumah  duka sambil membawa sesuatu untuk meringankan beban keluarga yang berduka. Sesuai hukum adat, pelayat dari pihak saudari perempuan yang sudah kawin wajib datang membawa hewan seperti kuda, sapi, atau kerbau. Sementara pihak saudara laki-laki dari istri keluarga berduka wajib membawa babi. Untuk masyarakat umum mereka biasanya membawa kain tenun Sumba yang panjang.

Uniknya saat penyambutan pelayat ini, keluarga yang berduka akan menabuh gong diiringi tarian adat untuk pelayat yang membawa kuda, kerbau, babi, atau tamu kehormatan keluarga.

Persiapan Makam

Sumber: travelinkmagz.com

Makam orang Sumba terbuat dari batu alam yang digali dan berbentuk ceper. Selama masa berkabung, ketika kaum perempuan menangis dan meratap. Masa berkabung bisa berlangsung sampai tujuh hari.

Sementara kaum laki-laki yang sudah dewasa mencari batu makam. Batu-batu makam diambil dari pegunungan, diikat dengan sebuah tali, kemudian ditarik secara berantai oleh kaum laki-laki menuju tempat pemakaman yang sudah ditentukan sambil diiringi nyanyian lalu dalam bahasa Sumba.

Batu ceper besar inilah yang digunakan makam masyarakat Sumba. Bentuk makan masyarakat Sumba seperti meja datar, dimana dibagian kepala ada satu batu yang tinggi. Batu ini sudah dipahat ukiran bentuk hewan, alat musik, dan lain sebagainya.

Pemakaman Adat Sumba

Sumber: travelinkmagz.com

Upacara pemakaman bagi penganut kepercayaan merapu ada dua tahap.

Tahap pertama, jenasah dibungkus kain tenun berlapis-lapis kemudian diletakkan dalam peti berdiameter 1,50 cm dari  kulit kerbau yang sudah dikeringkan. Jenasah diletakkan dalam posisi seperti janin dalam kandungan ibu. Posisi ini melambangkan kelahiran kembali di surga merapu dalam keadaan suci. Jenasah kemudian diletakkan di rumah adat untuk menanti prosesi upacara berikutnya. Jenasah dijaga oleh Papanggang atau Ata Ngandi yang juga berperan sebagai mediatpr dengan dunia roh. Sehari sebelum prosesi tahap pertama selesai, ratu atau pendeta marapu memimpin upacara Pahadang. Pada prosesi ini batu kubur disiapkan. Ukuran kubur batu tergantung status sosial jenasah.

Pada tahap kedua, jenasah diusung dan diarak dalam sebuah prosesi yang diiring tarian dan lagu-lagu Sumba. Kuda-kuda Sumba  dan prajurit berpakain adat yang dipimpin oleh Ata Ngandi mengiringi jenasah menuju pemakaman kubur batu megalit. Setelah jenasah diletakkan di dalam, kubur batu ditutup.

Pemakaman adat Sumba melibatkan orang yang sangat banyak dan membutuhkan biaya yang sangat besar. Oleh karena itu tidak semua kematian, bisa langsung dimakamkan di kubur baru. Kadang membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum keluarga yang berduka baru bisa memakamkan jenasah di kubur batu megalit.

You may also like...

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x