Budaya Kawin Tangkap di Sumba yang Sempat Viral

Juni lalu sempat viral video perempuan yang menangis karena digotong oleh sejumlah laki-laki untuk dimasukkan ke dalam rumah. Kawin tangkap, begitulah peristiwa itu disebut. Diklaim sebagai budaya yang memang sudah ada  dari dulu di Sumba, Nusa Tenggara Timur. Kronologi singkatnya perempuan Sumba tersebut “ditangkap” tanpa persetujuan dari dirinya untuk dibawa ke sebuah rumah. Ternyata keluarga pemilik rumah berniat untuk menjadikan wanita tersebut calon pengantin perempuan.

Sesaat kawin tangkap menjadi viral dan ramai diperbincangkan masyarakat sampai terdengar ke telinga masyarakat indonesia di luar pulau Sumba. Kasus ini pun hanya satu dari banyak kejadian sama yang sudah terjadi sebelumnya. Praktik ini dianggap merendahkan martabat kaum perempuan dan juga berpotensi melecehkan perempuan.

kawin tangkap

petisi online menuntut perkara kawin tangkap di sumba | sumber: @changeorg_id

Para aktivis ramai-ramai menentang praktik kawin tangkap dan meminta pemerintah setempat untuk mengeluarkan larangan dan peraturan terkait isu ini dengan membuat petisi penolakan. Karena selama ini masih berupa sanksi sosial dari masyarakat. Sehingga kasus semacam ini tidak bisa ditindak secara pidana.

Akhirnya para pejabat pemerintah daerah pulau Sumba memberikan tanggapan dengan mengeluarkan keputusan setelah video viral tersebut menyebar. Pemda Sumba telah mendatangi kesepakatan menolak “praktik kawin tangkap” demi meningkatkan perlindungan perempuan dan anak.

kawin tangkap

gadis sumba dalam balutan kain tradisional | sumber: @timurmanisee

Bagaimana sebenarnya tradisi kawin tangkap yang sesungguhnya? Ada yang menyebutkan bahwa kawin tangkap nyatanya bukan tradisi turun temurun di tanah Marapu. Sekalipun dilaksanakan ritual-ritual tertentu seperti yang dialami perempuan dalam video tersebut. Namun para penggiat budaya menyatakan adanya kesalahan dalam praktiknya dan tidak sesuai dengan budaya Sumba yang asli. Kawin tangkap malah menjadi praktik kekerasan dan pelecehan pada kaum perempuan.

Tradisi Kawin Tangkap yang Sesungguhnya

kawin tangkap

sumber: @lelewaturesort

Dilansir dari VOA indonesia menurut antropolog yang menulis buku “Masyarakat sumba dan adat istiadatnya” Oe H Kapita, ada suatu proses dalam cara peminangan adat Sumba yang disebut piti marangganggu (ambil dalam perjumpaan) dan piti rambang (Ambil paksa) yang akhirnya dikenal dengan istilah kawin tangkap.

Secara garis besar  calon pengantin laki-laki akan “menangkap” calon mempelai perempuan dalam sebuah prosesi yang sebenarnya sudah direncanakan dan disetujui oleh keluarga kedua belah pihak. Jadi tidak dilaksanakan secara mendadak, tapi ada komunikasi yang terbangun sebelumnya di antara kedua keluarga. Dalam prosesnya pun melibatkan simbol-simbol adat, seperti kuda yang diikat atau emas di bawah bantal, sebagai tanda bahwa prosesi tengah berlangsung.

Dalam menanyakan kesediaan dan persetujuan dari keluarga calon pengantin perempuan, menggunakan bahasa tidak langsung. Misalnya di Sumba Timur menggunakan kalimat “apakah di sini ada pisang yang sudah ranum? Tebu yang sudah berbunga?” Kalau di Sumba Barat dengan menyebutkan “apakah di sini ada bibit padi? Bibit jagung”. Jadi  bisa dikatakan jauh dari kesan pemaksaan.

Persiapan untuk pernikahan pun banyak. Keluarga harus menyiapkan Belis (mahar) dan mengikuti tahapan proses pernikahan adat yang panjang. Jika memilih menikah dengan cara pernikahan adat. Setiap prosesi memiliki makna yang mendalam, seperti seharus nya sebuah adat dalam suatu suku yang dipercayai dan dipertahankan secara turun temurun.

Baca juga: Pernikahan Adat Sumba, dan Maharnya yang Fantastis

Salah Kaprah Kawin Tangkap

kawin tangkap

sumber: @nu_rajvsingh

Namun kejadian kawin tangkap yang baru terjadi bulan lalu seolah menunjukkan ketidaksesuaian dengan nilai luhur para pendahulu, sekalipun proses ini diklaim sebagai tradisi turun temurun. Ada unsur kekerasan dan seolah merendahkan martabat perempuan yang jelas tidak sejalan dengan budaya Sumba yang menjunjung tinggi martabat perempuan

Nampak dari diberlakukannya Belis sebagai simbol menghormati calon pengantin dan keluarganya. Bagaimana berharganya seorang anak perempuan sehingga apabila ada orang yang ingin meminangnya perlu menyerahkan mahar yang sepadan untuk bisa memperistri. Sedangkan pada kasus ini, cara memperlakukan perempuan dengan “diculik” malah jadi berbanding terbalik.

Membiarkan praktik ini terselubung dalam nama budaya adalah kesalahan. Akan muncul orang-orang yang membenarkan tindakan ini atas nama tradisi. Karena nyatanya ada warga yang masih mencoba mempraktikan kawin tangkap dengan dalih sudah menjadi tradisi suka atau tidak suka. Maka dari itu perlu untuk diluruskan kembali bagaimana sesungguhnya budaya kawin tangkap agar tidak terulang lagi kejadian yang sama.

You may also like...

0 0 vote
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x